Pertanyaan tersebut ditanyakan oleh seorang teman. Sungguh pertanyaan yang sexy. Tapi entah yang nanya sexy juga atau enggak ya… hehehe… :)
Saya tidak akan membahas apakah ada kegalauan dari teman saya tersebut mengenai Tuhan dan agama. Tapi saya hanya ingin mengeluarkan pikiran-pikiran terkait konteks di atas.
Ada dua hal yang bisa kita bahas dulu di sini. Pertama,Tuhan.
Tuhan merupakan unsur transcendence. Inti ruh dari seluruh ruh manusia.
Sebagaimana setiap materi dan partikel di alam semesta ini memiliki inti, dari mulai atom terkecil memiliki inti atom yang dikelilingi oleh ion dan proton. Inti atom memiliki gaya gravitasi yang menarik ion-ion tersebut. Sehingga ion dan proton tidak bisa lepas dari intinya. Sebagaimana bumi dan planet-planet mengelilingi matahari dalam garis edarnya. Matahari memiliki gravitasi yang ‘mengikat’ planet-planet untuk tetap berputar mengelilingi inti planet, yaitu matahari. Juga bagaimana matahari kita berada dalam garis edarnya mengelilingi inti dari galaksi bimasakti. Dan terus seperti itu. Itu adalah hukum alam semesta. Hukum kehidupan di alam semesta ini.
Dalam konteks ini manusia tidak bisa memungkiri akan adanya satu unsur transcendence yang menjadi inti dari jiwa-jiwa manusia. Yang kita sebut Tuhan.
Tuhan tak bernama. Tidak ada istilah ‘Tuhan kamu, Tuhan saya, Tuhan kalian, Tuhan mereka, karena Tuhan adalah Tuhan. Unsur transcendence inti dari ruh-ruh manusia dan segala makhluk lainnya di bumi.
Mengapa jauh sebelum adanya ‘merk’ agama Islam, Katolik, Protestan, Budha, dlsb., manusia selalu memiliki rasa untuk bertuhan? Dengan menuhankan satu sosok yang tak terjangkau dari bayangan dan penglihatan manusia. Bahkan Firaun yang sombong pun membutuhkan unsur tuhan, yaitu Dewa Ra. Karena memang jiwa-jiwa manusia tanpa sadar ‘terikat’ dengan gaya gravitasi dari unsur transcendence, inti ruh manusia.
Gaya gravitasi dari unsur transcendence itu yang kita sebut sebagai iman.
Manusia-manusia sejak jutaan tahun lalu tidak pernah melihat Tuhan, namun rasa ‘tertarik’ dengan unsur transcendence itu begitu kuat, maka manusia selalu menyembah sesuatu sosok yang jauh di luar jangkauannya, yaitu dengan menyebutnya sebagai dewa, atau tuhan yang maha segalanya.
Itulah Tuhan, manusia hanya menamakannya berlain-lainan sesuai pemahaman atau pemikiran kapasitas otak manusia. Padahal Tuhan adalah Tuhan. Manusia menyebut nama-nama lain unsur transcendence itu untuk memudahkan penyebutannya dengan bahasa-bahasa yang berlainan.
Allah. Seperti diucapkan oleh banyak manusia adalah “al ilah” yang artinya ‘Sang Tuhan,’ “The God”, Sang Hyang Widhi, Tuhan yang Satu. Unsur transcendence inti ruh manusia yang jauh di atas segala-galanya di alam semesta ini.
Gaya gravitasi dari unsur transcendence ini membuat manusia selalu berjalan ke arahnya. Jalan-jalan ke arah unsur transcendence (Tuhan) ini begitu banyak, yang ujungnya tetap akan menuju ke tujuan, yaitu Tuhan. Jalan-jalan ini adalah tentu jalan kebaikan. Jalan kebaikan untuk tidak merugikan manusia atau makhluk lainnya di muka bumi. Jalan hidup untuk tidak saja menjaga manusia dari perilaku yang tidak baik (merugikan makhluk lain), tapi juga jalan hidup untuk ‘survive’ di muka bumi, di alam semesta, dan jalan untuk menjaga bumi ini dari kerusakan.
Jalan-jalan menuju Tuhan begitu banyak, lewat banyak arahnya, namun tujuannya tetap satu, menuju Tuhan. Jalan itu telah tersedia.Tinggal manusia sadar atau tanpa sadar tetap berjalan menuju Tuhan. “Dhien”, sebagian orang menyebutnya demikian, yaitu “jalan hidup.”
Agama. Lalu apa itu agama?
Setelah jalan-jalan hidup itu tersedia beragam, manusia yang memang disertai akal dan pikiran ini mulai menamakan, membuat yang kita sebut agama. Apapun agamanya, itu adalah “merk” penyebutan manusia atas pentunjuk-petunjuk menjalani jalan hidup ini. Manusia mulai menyebutnya sebagai agama ini agama itu. Yang sesungguhnya agama itu adalah kendaraan untuk berjalan di atas jalan hidup menuju Tuhan.
Kitab suci itu serupa dengan panduan arah jalan. Agama ini agama itu, hanyalah merk dari kendaraan yang digunakan manusia untuk melintasi jalan hidup menuju unsur transcendence, inti ruh manusia.
Dengan kitab suci sebagai panduan jalan, dan agama sebagai kendaraan, itu merupakan hal yang sangat-sangat baik untuk menuju Tuhan. Manusia menjadi bisa semakin memahami keimanan, yaitu rasa tertarik dengan gaya gravitasi dari Tuhan. Manusia dengan agama (kendaraan) bisa berjalan lebih cepat dan aman (selamat) menuju Tuhan.
Tapi sayangnya, tidak semua manusia mengendarai kendaraan (agama) itu dengan ‘safety driving/riding’. Banyak manusia yang malah berlomba-lomba beradu cepat, bersaing dengan kendaraan (agama) lainnya. Manusia dengan rasa ingin menjadi juara, pemenang, merasa harus bersaing dengan manusia lain yang ada di kendaraan yang berbeda dengannya. Hingga ‘kebut-kebutan’, banyak-banyakan konvoi kendaraan, banyak-banyakan produk yang terjual, banyak-banyakan pengguna merk agama (kendaraannya) menjadi tujuan yang melenceng dari tujuan semula, yaitu berjalan menuju Tuhan.
Terjadi persaingan yang tidak sehat antar pengendara (pemeluk agama) saling tabrak, saling menikung, ugal-ugalan, mau menjadi ‘raja jalanan’, hingga saling menumpahkan darah, demi untuk apa??? Bukan untuk berjalan menuju Tuhan, sebagaimana tujuan semula, tapi hanya untuk menjadi ‘jagoan jalanan.’
Agama apapun, (baca: kendaraan), jika dikendarai secara ugal-ugalan, hanya akan membuat manusia celaka. Jangan dipikir karena kita sudah ada dalam agama (kendaraan) yang kita anggap paling selamat, lalu kita memang akan selamat sampai tujuan. Dengan agama (kendaraan) paling canggih pun manusia bisa tergelincir dalam jurang dan mengalami celaka, jika dikendarai dengan ‘sok jagoan’, sok paling benar, sok paling ngebut kendaraannya, sok paling banyak penggunanya, dan sok jago mengemudi.
Berapa banyak dari kita yang khatam membaca buku manual mengendarai motor atau mobil, setelah kita membeli produk kendaraan?
Berapa banyak dari kita yang khatam membaca peta jalan (meski belum pernah menjalaninya) untuk lebih memilih jalan duluan deh… nanti baca petanya sambil jalan. Toh meskipun peta sudah di tangan, buku panduan mengendarai sudah di tangan, tetap saja manusia kadang mengalami kecelakaan, salah arah, atau gangguan mesin kendaraan. Maka seperti itu pulalah kita menggunakan kitab suci… secanggih apapun kita membacanya, interpretasi itu terus beragam dengan jutaan cabang pemikiran lainnya. Yang akhirnya malah menjadi gesekan perbedaan untuk memaknai isi manual book yang sesungguhnya sederhana saja, yaitu kendarailah secara aman, tanpa mengganggu pengendara lain yang ada di kendaraan lainnya. Periksa seluruh unsur-unsur kendaraan kita, bagian mana yang tak perlu digunakan, dan bagian mana yang selayaknya kita gunakan.
Menggunakan gas pol di saat padatnya kendaraan yang melintas, tentu bukan ide yang baik. Berhenti mendadak, tidak mau kalah dengan pengendara lain, membuat pengendara lain jengkel atas semau-maunya kita, tentu bukan hal yang baik. Jangan anggap kendaraan kita paling benar. Meski kendaraannya sudah benar dan baik, tapi cara mengendarainya merugikan orang lain.Lu akan celaka sebelum sampai ke tujuan.
Begitulah…. Tuhan dalah Tuhan. Unsur transcendence inti ruh manusia. Gaya gravitasi Tuhan memunculkan iman pada manusia. Jalan menuju Tuhan begitu beragam, yang kesemuanya adalah jalan kebaikan. Jalan kebaikan seperti yang saya sebut di atas. Kitab-kitab suci sebagai panduannya. Sedangkan agama adalah penyebutan kendaraan-kendaraan untuk tetap berjalan dengan baik menujupada inti ruh manusia.
Salah jalan masih bisa menemukan jalan lain yang benar, tapi salah mengendarai, hanya akan membuat manusia celaka dan tak sampai ke tujuan.