Inspirasi cerita ini ku ambil dari kisah nyata pada malam hari raya Idhul Fitri kemarin, di sebuah desa kecil, yang damai dan penuh kolaborasi kesejukan (Baca : Konspirasi Kemakmuran). Doni (Nama samaran), teman lamaku SMP dulu, dia anak orang yang sangat kaya raya, sangat penuh dengan keberlimpahan harta, kemana-mana selalu dengan keadaan yang berlebih, contoh semisal waktu sekolah di kala itu aku dan teman-teman hanya berjalan kaki, si Doni ini sudah memakai sepeda, itupun sepeda sangat mahal saat itu, sebut saja merk Po**gon.
Kami berbeda sekolah ketika SMA, namun kontak masih tetap terhubung, kami masih berteman akrab bahkan hingga saat cerita ini ku tulis.
Singkat cerita, Si Doni ini sangat pemalas dalam segi apa saja, Faktor keberlimpahan harta yang menyebabkan ini, bahkan pada akhirnya dia harus tidak lulus SMA, buah dari kebodohan yang ekstra tinggi.
Sering sih aku mengingatkannya untuk sama-sama belajar, namun tetap saja Motor balapnya yang jadi perhatian nomor satu.
Dan, saya serta beberapa temanku dulu, setiap hari minggu selalu berjualan di salah satu pasar di sana, berjualan Baju yang kami kulak dari Solo. hasilnya tidak seberapa sih, tapi berkat pengalaman itu alhamdulillah saya dan 4 temanku yang kala itu ikut berjualan sama-sama sudah bisa mendirikan Toko walalupun masih sangat sederhana, tapi menikmati usaha buah tangan sendiri adalah lain dari yang lain rasanya.
Berbeda dengan kami ber-4, Doni mana mau ikutan jualan seperti itu, ia lebih memilih balapan dengan teman yang sama-sama gila Motor.
Namu, Musibah di malam Hari kemenangan kemarin sangat memberikan pelajaran berarti buat kami semua, Ketika Api melalap habis 3 Rumah Keluarga Doni dan semua barang di dalamnya, tak satupun tersisa. perlu di ketahui di desa kami tidak ada istilah Bank, ATM, dll. semua harta tersimpan di kotak uang.
Sejak itulah semua berbalik, ketika keluarganya sudah tak memiliki apapun, betapa perihnya hidup ini ia jalani, ketika kekasihnya mulai pergi dan tak peduli, ketika teman-teman angkuhnya mulai pergi satu persatu.
Artinya, yang saya ambil hikmah adalah betapa pentingnya sebuah ilmu, betapa pentingnya sebuah pengalaman, mungkin harta bisa habis terbakar, tapi selama manusia belum mati, ilmu itu akan tetap berguna dimanapun manusia itu menetap.
Sekilas info: Doni sekarang kami ajari dan kami percaya kami bukakan sebuah Toko.
Semoga Tuhan memberikan kami semua Keindahan dan Ilmu sebanyak-banyaknya, amien..
Next Page : Ber-Ibadahlah dengan Kreatifitasmu
By: Sepertimu
Next Page : Ber-Ibadahlah dengan Kreatifitasmu
By: Sepertimu
Tidak ada komentar:
Posting Komentar